Android vs iOS

ios-vs-androidThe more I think about it the clearer I see that Android and iOS take different paths. There’s always a set of policies behind the decision to implement certain features, protocols, restrictions or allowances the way they are. At the end it all roots back to the business models of their respective companies, i.e. how they make money… from us, the users. Don’t get me wrong, I’m not noting negative mark. I’m not talking about good/evil business practices.

The bottom line is it’s foolish to simply compare those platforms’ technical merits especially in favor of one while bashing another. I’m done doing it.

My suggestion to self — and whoever position themselves as (power) users rather than die hard fanboys or evangelists — just get the most out of the best of the platforms, make it worth the expense. When — or if — I do comparison, the purpose is to learn how to accomplish a particular task in both platforms, not to judge one is smarter and the other is stupid or lame.

footnote: yes, of course one can apply this to other platforms as well.

Original image was taken from http://www.techweekeurope.co.uk/wp-content/uploads/2010/09/ios-vs-android.jpg

Kemboja di halaman rumah

kemboja yang kesepian di halaman rumah

Bunga Kemboja di halaman rumah saya ini (hampir) tidak mengalami perubahan sejak awal saya tanam. Memang ada perbedaan ketika tumbuh hingga pada bentuknya yang sekarang. Namun setelah itu tidak ada penambahan tinggi ataupun cabang. Seingat saya berbunga setahun sekali. Tanaman di sekitarnya tumbuh subur tanpa hambatan. Saya kadang iri melihat bunga kemboja di halaman rumah tetangga, atau yang saya lihat gambarnya di internet. Saya sendiri belum melakukan usaha apapun untuk melakukan perubahan :D Cenderung menerima saja, mungkin memang begitu saja yang bisa saya nikmati dari bunga kemboja yang satu ini. Tetap bersukur bahwa masih bisa menikmati bunganya, dan kesendiriannya, apa adanya.

Update atas kasus auto-REG konten 3789 di Indosat

Sebelum menulis kasus tentang auto-REG konten 3789 ini di blog (baca Indosat mengeruk dana pelanggan), saya sudah memutuskan sikap sebagai berikut,

  1. Untuk sementara memberhentikan Indosat sebagai penyedia jasa mobile Internet saya sejak tanggal 15 April 2011, dan memblokir pembayaran tagihan April 2011 (pemakaian Maret 2011) sebesar Rp 110.000 hingga ada penyelesaian yang jelas dari Indosat.
  2. Hanya akan membayar tagihan Mei 2011 (pemakain April 2011) secara prorata sesuai dengan jumlah hari pemakaian Matrix saya yaitu dari tanggal 1 – 16 April 2011, setelah ada penyelesaian yang jelas dari Indosat. (UPDATE 07/05: yang benar adalah 1-16 April, bukan 1-15 April seperti saya tulis sebelumnya).
  3. Selama saya belum menggunakan Matrix kembali, saya menolak beban abonemen bulanan atas kartu Matrix saya, hingga ada penyelesaian yang jelas dari Indosat.

Indosat mengeruk dana pelanggan

 Terhitung sudah 12 hari sejak saya memaparkan kronologis kasus pengerukan dana pelanggan oleh Indosat, namun hingga hari ini belum ada tanggapan berarti dari Indosat. Email tersebut saya tembuskan ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) melalui email pengaduan@brti.co.id, juga tidak ada perhatian sama sekali.

Berikut salinan lengkap isi email yang saya kirimkan ke Customer Service Indosat. Harapan saya semoga praktik semacam tidak berlanjut agar tidak merugikan konsumen.

Kepada: PT. Indosat Tbk.
Tembusan: BRTI

Sudah lebih dari 1 minggu sejak email saya yang terakhir, atau lebih dari 3 minggu sejak keluhan pertama kali saya kirimkan melalui http://www.indosat.com/inquiry, belum ada tanda-tanda penyelesaian mengenai kasus saya. Bahkan, saya tidak melihat ada itikad baik dari Indosat sebagai penyedia jasa untuk menyelesaikan kasus yang saya alami.

Saya sudah sampai pada kesimpulan bahwa hak saya sebagai pelanggan/konsumen telah diabaikan, dan Indosat telah lalai dari kewajiban. Hak dan kewajiban pelanggan dan penyedia jasa diatur dalam UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Indosat juga melanggar ketentuan yang tertuang di UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi.
Saya menunggu respon Indosat hingga hari Jumat, 8 April 2011 jam 14.00 WIB.
Ada baiknya saya jelaskan secara runut.

/regex/is a friend

Regular expression — regexp or regex for short — is actually part of daily work with computer, whether you realize it or not. It’s more common knowledge in programming languages or system administration tasks with Unix/Linux system. However, even technical people sometimes find themselves intimidated by regex at some extent.

I was recently involved in a little discussion about regex in an all-things-discussed typical mailing list of Kampung Gajah aka ID-Gmail. While some members found the regex syntaxes more like garbled text but like the output produced by regex, to me regex is a very helpful and powerful tool, and fun to work with. In short, regex is actually a friend.

But no, I’m not writing to discuss about regex in technical. It just came at the same time that I remembered a nice song from Lenka called Trouble is a Friend. I couldn’t help but reintrepreting the lyric to reflect my thought about regex. So here is my version of the song. Enjoy!

Baca lebih lanjut

Surat untuk Aburizal Bakrie

Piala AFF sudah berlalu, dan selamat untuk Malaysia sebagai juara. Namun, saya, seperti juga kebanyakan masyarakat Indonesia sangat bangga dan menghormati semangat dan daya juang para pemain tim nasional di lapangan. Apalagi mereka memenangkan pertandingan final leg ke-2 ini dengan skor 2-1 tanggal 29 Desember 2010 di Stadion Gelora Bung Karno. Memang tak cukup untuk merengkuh juara karena kalah agregat 2-4 setelah kalah 0-3 di final leg ke-1 di Malaysia 26 Desember 2010.

Yang masih jelas tersisa adalah kekesalan masyarakat atas cara-cara PSSI menangani timnas dan politisasi dari berbagai pihak. Tidak heran selama berhari-hari tuntuan supaya Nurdin Halid, ketua PSSI, turun sangat menggema. Hal yang sebenarnya sudah diinginkan sejak bertahun-tahun. Bahkan tagar #NurdinTurun sempat menjadi trending topic di Twitter.com.

Pagi ini di mailing list Kampung Gajah (id-gmail@googlegroups.com) saya membaca sebuah email yang mengutip komentar di forum Tempo Interaktif. Sangat mendalam, sangat mengena, mewakili sentimen masyarakat atas politisasi atas timnas. Dan saya kutip seluruhnya di bawah ini beserta tangkapan layarnya.

Baca lebih lanjut

Victim of Apple’s failure – an open letter

To whom at Apple it may concern…

I still don’t understand why the MacBook Air 11-inch failed to deliver to my shipping address. I ordered it (on 21st Oct) from online store, received the shipment notification email (on 23rd Nov), and received shipping cancellation email (on 15th Dec). It was a seriously long wait just to face the truth that I don’t get my MBA. What’s annoying me most is that I didn’t get a chance to discuss the situation and you single-sidedly decided to cancel the order and refund the money. This all resulted in serious consequenses on my part, some of them are financial related.

Order acknowledgement email

All I knew was I trusted the Apple products and trusted the Apple Store system. It turned out that while you are proud to provide e-commerce service on your website you aren’t well prepared to complete business in Indonesia, and you fail to handle situation in Indonesian customs. At the end, I — the customer — become the victim of your failure. I depended on MBA 11″ for my upcoming works. I could tolerate the delay of delivery, but this is totally different situation, very much out of expectation. So you see how frustating it is.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.