Sandal putus, dibuang sayang

Punya sandal jepit putus seperti punya saya? Sebal? Kesal? Jangan dibuang dulu. Biasanya saya melakukan tindakan darurat dengan menggunakan peniti atau paper clip untuk menahan bagian bawah poros. Office boy di kantor tempat saya sempat bekerja mengajarkan secara tidak langsung bagaimana membuat sandal yang sudah putus bisa digunakan lagi.

Baca lebih lanjut

Vertikultur sebagai alternatif bagi lahan sempit

Lahan yang sempit memang membuat kegiatan berkebun jadi kurang leluasa, namun dengan memanfaatkan ruang secara vertikal, berkebun menjadi lebih menyenangkan dengan kuantitas yang dapat ditingkatkan. Vertikultur adalah pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan. Pada kesempatan ini saya tertarik mencoba vertikultur dengan bambu berdiri sebagai wadahnya. Karena skalanya percobaan, saya hanya menggunakan dua batang bambu. Tidak semua jenis tanaman bisa atau cocok untuk vertikultur. Untungnya, hampir semua jenis sayuran bisa digunakan, yang kebetulan juga memang sesuai keinginan saya berkebun sayur mayur untuk kepentingan dapur. Dalam hal ini saya memilih tomat dan cabe merah. Untuk media tanam saya gunakan campuran tanah, kompos, dan sekam. Saya menggunakan bahan dan pola organik dalam bercocok tanam.
Baca lebih lanjut

Halaman hijau untuk rumah kecil

Meskipun rumah saya berukuran kecil (tipe 29), saya bersyukur bahwa kami memiliki halaman yang lumayan, sekitar 25 meter persegi. Cukup luas sebagai tempat bermain anak-anak, tapi sebenarnya masih kurang leluasa untuk berkebun dengan berbagai tanaman buah. Tipe rumah saya aslinya hanya memiliki lahan 72 meter persegi. Karenanya, kami memilih kavling di sudut (hook), untuk mendapatkan tambahan lahan. Saya sengaja membiarkan halaman terbuka, tanpa kanopi (awning). Halaman rumah saya dominan dengan tanaman rumput gajah mini, dekat dengan pagar di bagian pinggir saya tanami bambu cina. Di sudut kanan ada mangga apel, yang katanya penampilan buahnya sangat menggiurkan tapi rasanya asam sepat luar biasa. Lalu di sudut kiri ada pohon cempaka dan jambu air mengapit bak sampah. Agak ke tengah di depan jendela ada sebuah pohon kenanga dan tiga pohon jeruk beda-beda jenis (purut, limau, nipis), dan sekumpulan miyana (lihat juga gambar-gambar di tulisan tentang biopori).

Baca lebih lanjut

Biopori di halaman rumah

Akhirnya jadi juga saya mempunyai lubang resapan biopori (LRB), atau yang lebih dikenal dengan lubang biopori. Rumah saya ada di kompleks perumahan Mutiara Bogor Raya, Katulampa, Bogor Timur, yang mulai dibangun awal 2007. Di atas halaman yang luasnya kurang lebih 25 meter persegi saya membuat sekitar 34 lubang silinder, ditambah empat lubang memanjang. Mulut lubang disemen untuk dudukan loster sebagai penutup. Dengan biopori kita menyelesaikan sebagian persoalan sampah, memperoleh pupuk, dan membantu mencegah banjir. Khusus untuk yang terakhir ini, terutama dalam konteks pencegahan dan penanganan banjir skala nasional, usaha saya membuat biopori mungkin tidaklah signifikan jika hanya sendirian. Pada kenyataanya, sudah banyak yang menyuarakan dukungan nyata terhadap biopori (lihat daftar di bagian bawah). Hari ini dan di masa mendatang, kita butuh lebih banyak lagi biopori. Jadi, mari ramai-ramai membuat biopori!

Halaman dengan lubang biopori Halaman dengan lubang biopori yang telah disemen

Baca lebih lanjut