Gara-gara kembalian ongkos bus

Ongkos busPada suatu perjalanan Bogor-UKI dengan bus terjadi sebuah kasus yang walaupun jarang tapi normal terjadi. Sesampai di UKI, saya tiba-tiba terbangun dari tidur karena ada ribut-ribut antara seorang penumpang dengan kondektur bus. Setelah sekian lama naik bus Bogor-UKI, baru kali ada kejadian seperti ini. Si penumpang tersebut mengaku membayar ongkos (Rp6.000) dengan uang sejumlah Rp51.000, dan menuntut kembalian sebesar Rp45.000. Sebaliknya, si kondektur bertahan bahwa semua kembalian sudah diberikan dan hitungan uang yang dia pegang sudah pas, sesuai dengan jumlah penumpang. Maka terjadilah tarik ulur. Baik si penumpang maupun si kondektur tidak ada yang mau kalah, yang tergambar dalam dialog berikut (tidak pas 100% dengan kenyataannya karena saya tidak ingat detil, tapi intinya masih sama).

“Waduh, gimana dong, Pak?”
“Ya, gimana, pokoknya semua kembalian sudah saya berikan. Bapak kali yang salah ngasih duit.”
“Ah, nggak mungkin, Pak. Itu uang saya satu-satunya yang tersisa.”
“Tapi hitungan saya sudah pas.”
“Makanya kembalian langsung dikasih aja, Pak.”
“Lho sudah saya kembalikan semua, kok.”
“Gimana dong, minta kebijaksanaannya deh, Pak. Saya gimana caranya ke kantor?”
“Bener bapak bayar 51.000 tadi?”
“Bener, Pak. Demi Tuhan, dan saya belum dapat kembaliannya.”
Baca lebih lanjut

Iklan

Biopori di halaman rumah

Akhirnya jadi juga saya mempunyai lubang resapan biopori (LRB), atau yang lebih dikenal dengan lubang biopori. Rumah saya ada di kompleks perumahan Mutiara Bogor Raya, Katulampa, Bogor Timur, yang mulai dibangun awal 2007. Di atas halaman yang luasnya kurang lebih 25 meter persegi saya membuat sekitar 34 lubang silinder, ditambah empat lubang memanjang. Mulut lubang disemen untuk dudukan loster sebagai penutup. Dengan biopori kita menyelesaikan sebagian persoalan sampah, memperoleh pupuk, dan membantu mencegah banjir. Khusus untuk yang terakhir ini, terutama dalam konteks pencegahan dan penanganan banjir skala nasional, usaha saya membuat biopori mungkin tidaklah signifikan jika hanya sendirian. Pada kenyataanya, sudah banyak yang menyuarakan dukungan nyata terhadap biopori (lihat daftar di bagian bawah). Hari ini dan di masa mendatang, kita butuh lebih banyak lagi biopori. Jadi, mari ramai-ramai membuat biopori!

Halaman dengan lubang biopori Halaman dengan lubang biopori yang telah disemen

Baca lebih lanjut

Hujan masih setia di Bogor

Setengah perjalanan bulan Maret sudah berlalu. Hujan masih saja turun di Kota Bogor. Siapa bisa menyalahkan? Memang Bogor dikenal sebagai Kota Hujan. Walaupun tidak setiap hari, hujan senantiasa turun dengan membawa misi dari penciptanya. Sebagian besar kita (termasuk saya yang masih sering bertanya-tanya), memperlakukan hujan berdasarkan kepentingan. Bagi yang daerahnya dilanda kekeringan, atau yang sedang bergulat melawan panas matahari, atau sang petani yang sedang membutuhkan air untuk kesuburan tanah dantanaman, hujan tentu disenangi (walau hanya sebagian kecil yangmensyukuri). Sebaliknya bagi yang sedang ingin menjemur cucian, atau menjemur kasur (karena keompolan anak seperti dalam kasus saya), atau yang sedang ingin bepergian, atau yang sedang menyelenggarakan acara, hujan sepertinya sebuah bencana, atau setidaknya halangan, dan dengan sendirinya dibenci dan dicaci (boro-boro bersyukur!).

Baca lebih lanjut