Mengejar KRL

KRL Ekspres PakuanBeberapa hari lalu saya berangkat ke kantor siang, rencananya mau naik KRL Ekspres 13.18 dari Bogor. Pas beli tiket di loket, saya tanya, “Jalur berapa, pak?” Dijawab jalur 2. Ternyata jalur 2 masih kosong, jalur 3 terisi KRL AC, dan saat itu sudah jam 13.05. Saya jadi ragu-ragu, jadi saya tanya lagi petugas yang ada di situ, “Ini KRL berangkat jam berapa?” Dijawab, “13.10, sebentar lagi.” Baca lebih lanjut

Gara-gara kembalian ongkos bus

Ongkos busPada suatu perjalanan Bogor-UKI dengan bus terjadi sebuah kasus yang walaupun jarang tapi normal terjadi. Sesampai di UKI, saya tiba-tiba terbangun dari tidur karena ada ribut-ribut antara seorang penumpang dengan kondektur bus. Setelah sekian lama naik bus Bogor-UKI, baru kali ada kejadian seperti ini. Si penumpang tersebut mengaku membayar ongkos (Rp6.000) dengan uang sejumlah Rp51.000, dan menuntut kembalian sebesar Rp45.000. Sebaliknya, si kondektur bertahan bahwa semua kembalian sudah diberikan dan hitungan uang yang dia pegang sudah pas, sesuai dengan jumlah penumpang. Maka terjadilah tarik ulur. Baik si penumpang maupun si kondektur tidak ada yang mau kalah, yang tergambar dalam dialog berikut (tidak pas 100% dengan kenyataannya karena saya tidak ingat detil, tapi intinya masih sama).

“Waduh, gimana dong, Pak?”
“Ya, gimana, pokoknya semua kembalian sudah saya berikan. Bapak kali yang salah ngasih duit.”
“Ah, nggak mungkin, Pak. Itu uang saya satu-satunya yang tersisa.”
“Tapi hitungan saya sudah pas.”
“Makanya kembalian langsung dikasih aja, Pak.”
“Lho sudah saya kembalikan semua, kok.”
“Gimana dong, minta kebijaksanaannya deh, Pak. Saya gimana caranya ke kantor?”
“Bener bapak bayar 51.000 tadi?”
“Bener, Pak. Demi Tuhan, dan saya belum dapat kembaliannya.”
Baca lebih lanjut

Yang tidak biasa tentang KRL Ekspres

Ada (beberapa hal) yang tak biasa hari ini. Begitu sampai di Stasiun Bogor, saya melihat secara sekilas sebuah pengumuman yang intinya adalah tarif KRL Ekspres dan KRL Semi Ekspress disamakan jadi Rp11.000. Semi Ekspres berangkat pada jam-jam tertentu (umumnya antara jam 11.00 – 13.00), dan singgah di lebih banyak statsiun daripada Ekspres, dengan tarif Rp6000. Hari ini saya mau naik KRL Ekspres jam 07.00, jadi untuk sementara, penyamaan tarif ini tidak ingin saya pikirkan. Seperti biasa, saya membeli koran sebagai “bekal” baca di kereta. Saya sampai di peron (jalur 2) bersamaan dengan rangkaian KRL mulai masuk. Bersama calon penumpang lain, saya berhamburan masuk dan memilih tempat duduk terdekat. Dalam hal ini, saya tidak pernah memiliki tempat duduk favorit. Sambil menunggu KRL berjalan, saya mulai membaca koran. Rasa kantuk menyerang denga hebat. Entah kenapa, kantuk lebih ganas dan agresif di bulan puasa. Biasanya saya tertidur atau menidurkan diri setelah pemeriksaan tiket, kecuali tentunya kalau saya tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri. Dalam hal ini saya harus tahan melek sampai Jakarta. Singkat kata saya pun tertidur.
Baca lebih lanjut