Mengejar KRL

KRL Ekspres PakuanBeberapa hari lalu saya berangkat ke kantor siang, rencananya mau naik KRL Ekspres 13.18 dari Bogor. Pas beli tiket di loket, saya tanya, “Jalur berapa, pak?” Dijawab jalur 2. Ternyata jalur 2 masih kosong, jalur 3 terisi KRL AC, dan saat itu sudah jam 13.05. Saya jadi ragu-ragu, jadi saya tanya lagi petugas yang ada di situ, “Ini KRL berangkat jam berapa?” Dijawab, “13.10, sebentar lagi.”

Ya sudah saya naik, walaupun belum sreg benar. Setelah beberapa saat di dalam KRL, terdengar pengumuman tentang KRL Ekspres dari utara yg masuk ke jalur 2. Saya mulai curiga salah naik KRL. Dan makin yakin setelah ada pengumuman lanjutan bahwa KRL AC Ekonomi (yang saya tumpangi) tujuan Jakarta akan segera berangkat dari jalur 3. Saat itu KRL Ekspres sudah masuk ke jalur 2, tapi saya juga masih ragu untuk turun. Dan begitulah akhirnya, pintu-pintu KRL tertutup, lalu mulai berjalan perlahan. Lamat-lamat terdengar lagi pengumuman KRL Ekspres tujuan Jakarta akan diberangkatkan jam 13.18 dari jalur 2. Panik? Nggak juga. Cuma agak kesal karena nggak teliti dan kurang sabar.

Untung ada program Acrobat Reader di HP, jadi saya bukalah itu file pakuan.pdf, ngecek jadwal lagi. Di situ tertulis bahwa Rute KRL JabodetabekKRL akan berhenti di stasiun-stasiun Depok, Gondangdia, Gambir, Juanda, sebelum ke tujuan akhir di Stasiun Kota. Untuk diketahui, KRL AC Ekonomi berhenti di tiap stasiun antara Bogor dan Jakarta kota (total sekitar 21-22 stasiun). Persis seperti KRL Ekonomi non-AC. Jadi saya tinggal berharap segalanya berjalan normal. Yaitu, KRL AC Ekonomi berhenti di Depok, dan KRL Ekspres menyusul masuk Depok. Cuma saya belum yakin betul, titik “persalipan” akan terjadi di stasiun Depok atau Depok Baru. Keraguan saya segera hilang ketika KRL AC Ekonomi berhenti di Depok (bukan Depok Baru), pintu terbuka lebih lama. Tapi, saya baru meyakinkan diri untuk turun setelah mendengar pengumuman bahwa KRL Ekspres akan segera masuk Depok.

Baru juga jalan beberapa langkah di peron KRL Ekspres masuk dan berhenti di jalur 1. Pintu KRL terbuka, dan saya ya naiklah, masa saya pelototin doang. Gerbong-gerbong relatif kosong, kontras dengan KRL AC Ekonomi yg tingkat kepadatannya mendekati KRL Ekonomi non-AC. Akhirnya sampai di stasiun Gondangdia sekitar jam 14 lewat beberapa menit. Selanjutnya naik ojek ke Sarinah, diteruskan dengan metromini 640 menuju kantor.

Catatan:
Gambar-gambar diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/KRL_Jabotabek

Blogged with the Flock Browser

9 Tanggapan

  1. mantaf, perjalanan yang mengasikkan, bukan??, bravo!!!

  2. wah, ada sesuatu dari penuturannya. gue bacanya deg-degan mikir bakal bisa dapet apa engga :D

  3. emang ngantornya jam berapa mok, siang amat :D

  4. mantap tho? enak tho?

  5. ha.. ha…
    salah naik kereta, itu biasa..
    senasib dengan saya, tiap hari juga naik kereta bojong-jakarta..

    memang tidak boleh ragu untuk bertanya, terutama pada sesama penumpang untuk memastikan kita tidak salah naik kereta.. kalo suka ragu dan tidak gerak cepat ya jadinya seperti ini.. ha.. ha..

  6. smoga ntar pas lilis naik kereta api lagi, lilis ga ngalamin hal serupa

  7. Kereta kok dikejar …

  8. yang penting bisa nyampek tujuan walau kosong gak seperti yang bagus keretanya, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: