Gara-gara kembalian ongkos bus

Ongkos busPada suatu perjalanan Bogor-UKI dengan bus terjadi sebuah kasus yang walaupun jarang tapi normal terjadi. Sesampai di UKI, saya tiba-tiba terbangun dari tidur karena ada ribut-ribut antara seorang penumpang dengan kondektur bus. Setelah sekian lama naik bus Bogor-UKI, baru kali ada kejadian seperti ini. Si penumpang tersebut mengaku membayar ongkos (Rp6.000) dengan uang sejumlah Rp51.000, dan menuntut kembalian sebesar Rp45.000. Sebaliknya, si kondektur bertahan bahwa semua kembalian sudah diberikan dan hitungan uang yang dia pegang sudah pas, sesuai dengan jumlah penumpang. Maka terjadilah tarik ulur. Baik si penumpang maupun si kondektur tidak ada yang mau kalah, yang tergambar dalam dialog berikut (tidak pas 100% dengan kenyataannya karena saya tidak ingat detil, tapi intinya masih sama).

“Waduh, gimana dong, Pak?”
“Ya, gimana, pokoknya semua kembalian sudah saya berikan. Bapak kali yang salah ngasih duit.”
“Ah, nggak mungkin, Pak. Itu uang saya satu-satunya yang tersisa.”
“Tapi hitungan saya sudah pas.”
“Makanya kembalian langsung dikasih aja, Pak.”
“Lho sudah saya kembalikan semua, kok.”
“Gimana dong, minta kebijaksanaannya deh, Pak. Saya gimana caranya ke kantor?”
“Bener bapak bayar 51.000 tadi?”
“Bener, Pak. Demi Tuhan, dan saya belum dapat kembaliannya.”

Dialog sebenarnya juga lebih panjang, karena kedua pihak mengulang-ulang argumen masing-masing. Saya hanya diam menyaksikan, tidak berani ikut campur, dan juga tidak punya solusi. Mungkin karena tidak ingin berpanjang-panjang, si kondektur akhirnya menyerahkan beberapa lembar uang dengan berbagai pecahan, sambil berkata “Nih, itu 20.000.”

“Lho, tadi kan saya bayar 51.000, harusnya kembali 45.000 dong.” Si kondektur menyerahkan lagi sejumlah uang, mungkin sekarang jumlahnya pas 45.000, karena si penumpang tidak protes lagi. Lagi pula, saya segera turun dari bus tadi karena harus naik bus lagi untuk sampai ke kantor. Selama menyaksikan perdebatan yang cukup hangat tapi tidak sampai memanas itu, juga selama perjalanan menuju kantor, saya berpikir-pikir dan menyimpulkan bahwa kemungkinan besar, salah satu dari mereka salah. Sepertinya susah salah dua-duanya. Dengan menggunakan asas praduga tak bersalah, saya menduga, siapapun yang salah, hanya karena lupa bukan karena sengaja.

Saya sering melihat sebelum bus berangkat, kondektur telah mempersiapkan uang kembalian (kalau di toko mungkin istilahnya “modal”), terdiri atas berbagai pecahan mata uang. Jadi, si kondektur sebenarnya sudah menyiapkan uang kembalian untuk setiap pembayaran ongkos dari penumpang sehingga kembalian ongkos bisa diberikan dengan segera, berapapun nominal yang dibayarkan penumpang. Di sisi lain, nominal yang dibayarkan penumpang memang beragam. Ada yang pas 6.000, ada yang 10.000 (kembalian 4.000), atau jumlah lain. Ada juga yang menambahkan 1000 jika nominalnya 10.000, 20.000, 50.000, atau 100.000, karena ini biasanya mempercepat proses pengembalian, disukai kondektur maupun penumpang.

Kemungkinan yang terpikir adalah, si penumpang membayar bukan dengan pecahan 50.000 dan 1.000 seperti yang dia akui. Atau, memang si kondekturnya yang lupa memberikan kembalian. Mari kita anggap dulu bahwa si penumpang sebenarnya membayar pas 6.000, dan uang 50.000 yang dia bilang sebagai tinggal satu-satunya itu tertinggal di rumah. Ketika dia terbangun, dia memeriksa tas atau dompet dan tidak menemukan lembaran 50.000 yang dia harapkan ada. Karena sudah menjadi kebiasaan umum membayar 50.000 atau 51.000, maka tanpa berpikir panjang, dia berkesimpulan bahwa kembalian ongkos belum diberikan. Dalam hal ini, kebiasaan umum menjadi patokan kebenaran. Jadi memang ada kemungkinan si penumpang salah atau lupa.

Sekarang kita anggap bahwa si penumpang betul-betul membayar 51.000. Tidak selamanya kondektur siap dengan uang kembalian yang pas, atau memang si kondektur menunda pemberian kembalian entah karena memang dia tidak punya cukup kembalian, atau dia ingin menghemat uang kembalian, misalnya hanya ada dua lembar 20.000, dua lembar 10.000, dan beberapa lembar 1.000. Jadi dia akan beredar dulu ke penumpang-penumpang berikutnya berharap ada di antara mereka yang membayar dengan nominal kecil. Saya pun pernah dua-tiga kali mengalami penundaan kembalian ongkos tapi biasanya tidak pernah lama. Jika ini yang terjadi, kondektur akan meminta penumpang bersabar, dan sang penumpang juga tidak keberatan menunggu. Celakanya, dalam hal ini, kondektur betul-betul lupa kembali ke penumpang, dan si penumpang tetap bersabar menunggu sampai bus berhenti di tujuan.

Saya pernah juga mengalami hal yang sama dulu sekali di Bandung, naik bus Damri yang ongkosnya masih 1000. Saya sedang tidak punya 1000-an dan membayar dengan uang 10.000. Sampai saya mau turun baru saya tagih dan terjadilah situasi yang sama seperti yang dialami penumpang di atas. Si kondektur baru mau memberikan kembalian setelah saya bersumpah “Demi Allah”, karena saya memang yakin. Nah kemungkinan kejadian begini di bus Bogor-UKI yang penumpangnya duduk semua memang lebih kecil dibandingkan dengan bus kota yang sebagian besar penumpangnya berdiri, lebih semrawut. Tapi tetap saja, kemungkinan kondektur lupa memberikan kembalian ongkos tetap dapat terjadi.

Lalu bagaimana penyelesaiannya? Ada tiga kemungkinan. Pertama, karena kedua pihak yakin akan kebenaran masing-masing, mereka bisa meneruskannya secara hukum, lapor ke polisi. Tapi, untuk uang sejumlah 45.000 (meskipun tidak kecil), rasanya terlalu kecil untuk dibawa ke arah situ, kecuali jika yang dipertaruhkan sungguh-sungguh adalah kebenaran dan hanya kebenaran semata sehingga nilai uang tidak signifikan lagi. Tapi sekali lagi, untuk 45.000? Ayolah….

Kedua, persoalan “diselesaikan” dengan kekerasan karena tensi semakin meningkat, dan setiap rupiah sangat berharga. Tapi, solusi ini hanya menimbulkan masalah baru, dan belum tentu masalah sebenarnya bisa selesai. Lagipula, ujung-ujungnya bisa ketemu polisi juga. Solusi yang ketiga adalah dengan jalan “damai”, dimana salah satu pihak mengalah. Inipun hanya menyelesaikan perselisihannya saja, dalam arti, persoalan tidak berkelanjutan. Tapi kebenaran sejati tetap tidak terungkap. Solusi lain seperti menggunakan alat deteksi kebohongan saya golongkan ke alternatif pertama. Sedangkan cara lain seperti sumpah pocong (entah sampai dimana juga kebenaran dan akurasinya) saya samakan dengan jalan yang kedua.

Meskipun telah selesai, sebenarnya persoalan ini bisa berkepanjangan bagi masing-masing pihak secara individu jika tidak disertai dengan keikhlasan. Pihak yang mengalah (dalam hal ini si kondektur) bisa saja merasa terpaksa memberikan uang kembalian yang tidak seharusnya dia berikan, lalu mengomel-omel sepanjang hari tentang kelakukan sang penumpang. Di pihak lain, sang penumpang meski telah menerima kembalian (entah berhak atau tidak dia terima), malah merasa menang dan menyumpahi si kondektur, bukannya bersyukur.

Saya sendiri sebagai saksi (perselisihan), tetap tidak bisa mengambil posisi, siapa yang benar siapa yang salah. Maka saya tuangkanlah di sini sebagai bahan renungan. Jika kejadian tersebut menimpa saya, mudah-mudahan saya bisa mengalah dengan ikhlas jika saya tidak bisa lagi memberikan argumen, atau argumen saya tidak diterima. Begitupun, jika saya yang “menang” karena saya yakin, tidak membuat saya besar kepala. Sungguh, pelajaran bisa dipetik dari mana saja.

Powered by ScribeFire.

14 Tanggapan

  1. gw juga pernah ada kejadian yang berhubungan dengan ongkos…
    diawali dengan kenyataan bahwa di indonesia banyak terdapat kesamaan bentuk pecahan mata uang. uang 10.000 mirip dengan 100.000. uang 1.000 mirip degan 20.000.
    Nah, gw pernah merasa membayar ongkos angkot dengan 20.000, yang waktu itu gw sangka pecahan 1.000.
    Si angkotnya langsung berangkat..tarik-jabrik..
    Sesaai setelah itu gw merasa tertipu…tapi logika gw langsung manarik kesimpulan untuk mengalah..
    abisnya yah..si angkotnya sudah pergi juga-entah bener itu 20.000 dan 1.000 tak ada yang bisa membuktikannya-dan yang jelas kesalahan ada di pihak gw…kenapa gw lupa dan teledor.
    Jadi gw mengalah waktu itu supaya hati gw berdamai…barangkali sesuai dengan kata ‘ikhlas’ dari hasan…cheers.

  2. Wah soal kemiripan uang kertas malah gak kepikir ama gua, bisa jadi faktor itu memang ikut andil dalam perselisihan penumpang dan kondektur tersebut.

  3. Hehehhe kalo gw San pernah tuh udah dikembaliin karena lupa gw taggih lagi hehehe eh tuh kondektur ngasih lagih ….. kasian tuh kondektur :) * mang Oon yah gw ? kekekeke

  4. Yah namanya juga lupa, Bay. Gw pernah juga naik bis, karena tidur gak ditagih2. Pas bangun mau turun, baru gw bayar, padahal kalo gak bayar juga gak akan ditagih kayaknya. BTW, kemana aja lu?

  5. siapkan uang pas. hindari masalah dengan kondektur. itu prinsip saya jika naik angkot.

  6. @jalansutera: Itulah yang paling aman menurut saya :)

  7. kalau saya pernah mau bayar malah dimarah marahin, alasannya karena dari tadi kondekturnya sudah keliling tapi gak ada yang mau bayar, dan saat keliling lagi, kemudian baru saya bayar karcisnya. padahal seingat saya saat saya naik, kondektur itu belum pernah sekalipun melintas :(. apes deh saya, pagi pagi disemprot ma kondektur :(:(:(

  8. @luqman: Kalo itu baru tuh buat saya, rasanya belum pernah ngalamin. Tapi kalo ditagih dua kali udah beberapa kali.

  9. Iya, memang paling aman siapkan uang pas berikut sen-sen apa receh2annya sekalian dah. Dan yang terpenting sangat indah bila semua kita masyarakat bisa jujur, terbuka, apa adanya, setelah begitu hm.. jadi ngimpi kalo Rp 1 = USD 3,000.00 (jadi nggak ribet sama kebanyakan Nol biar latian ngitung ganjil2x sama sen kecil2x), bayangin itu rupiah, coba kalau Poundsterling bisa runyam GBP 50 disangka Rp 1, padahal hampir satu jutaan rupiah gitu kalo sampe salah2x urusan transaksi gitu.

  10. @weloveariekeren: IDR1 = USD3000 memang mimpi yang indah, jujur, dan terbuka :-)

  11. mudah mengalah kalau kita punya uang lebih ……. menjadi sulit lebih ikhlas tatkala uang tersebut adalah uang satu2nya yg tersimpan di dompet sementara perjalanan belumlah tuntas

  12. tambahan : moral of the story : kalo kemana2 sebaiknya bawa uang lebih, jangan 100% pas

    *maaf pak double post, gak sengaja tombol submit kepencet” (g_doh)

  13. @adit: setuju (g_rock_n_roll)

  14. klo pengalaman aq sih pernah thn 90an naik bis dr surabaya-madiun sampe 7an tengah malam klo kembalian belum ada tulisan di belakang karcis. beberapa hari berikut kami tanyakan ke garasi dia melihat karcis dan tanya beberapa pertanyaan. dan pihak management mira group pun sanggup untuk mengembalikan (biar diantar sendiri oleh kondektur yg bersangkutan) uang pun sampai tangan. tp dalam posisi ini antara kami tidak saling menyalahkan. trim po mira.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: