Bangsa Tempe dan Bukan Bangsa Tempe

TempeSaya berasal dari daerah yang secara tradisi bukan “tempemania”. Beruntung salah satu tetangga saya yang aslinya dari Jawa, yang juga orangtua dari salah satu sahabat saya, memiliki usaha tempe dan berhasil “memonopoli” penjualan tempe. Jadi sejak kecil, saya mencicipi tempe dan langsung jatuh cinta. Anehnya, ibu saya sepertinya mengerti betul model masakan tempe yang pas buat saya. Pernah pada suatu saat, saya disarankan oleh seorang tetangga untuk tidak makan tempe karena sebelum jadi tempe kedelainya diinjak-injak pakai sepatu bot (mungkin maksud dia derajatnya sebagai makanan jadi rendah, juga kotor). Barangkali juga, karena bercermin dari proses ini Presiden Soekarno lantang berteriak bahwa kita bukan bangsa tempe, bukan bangsa yang begitu saja mau diinjak-injak oleh pihak manapun hanya untuk dibentuk sesuka hati. Juga bukan bangsa yang lembek seperti tempe.

Saya percaya bahwa tetangga yang menyarankan untuk tidak makan tempe itu belum pernah dengar Soekarno berbicara tentang “bukan bangsa tempe”. Setelah dewasa dan teringat lagi soal itu, saya berpikir mungkin tetangga saya itu hanya sirik dengan kesuksesan sang pengusaha tempe. Yang pasti, sahabat saya yang anak pengusaha tempe itu, berhasil masuk sekolah unggulan dan kemudian bergabung dengan TNI AU. Entah bertugas dimana dia sekarang, kami sudah lama kehilangan kontak. Dan saya tiba-tiba merindukan kenakalan dan kebersamaan kami, juga dengan sahabat-sahabat lain, semasa SMP dulu. Setelah tamat SMP, saya meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan sekolah di Bandung.

Ah nostalgia. Dan bicara tentang nostalgia, juga ada potongan hidup saya yang akan sulit saya lupakan, yang satu ini dengan calon istri saya (waktu itu). Mengesankan bukan karena sekedar berada dalam masa-masa pacaran atau kasmaran, tapi karena situasi yang harus kami hadapi. Kami memutuskan jalan bersama-sama, justeru ketika saya berada dalam situasi yang sangat sulit. Saat itu adalah awal masa-masa panjang dimana kantor tidak lagi mampu membayar gaji karyawannya secara teratur. Saya bekerja di Jakarta, dan dia kuliah di Bandung. “Pulang” ke Bandung di akhir minggu menjadi sesuatu yang sangat istimewa, karena ongkos kereta api Parahyangan jadi sangat mahal bagi saya.

Pernah suatu saat, perempuan yang sekarang jadi istri saya itu mengirimkan uang Rp20.000,00. Itu jumlah yang saya minta karena sudah cukup menggenapi angka Rp50.000,00 (ongkos KA kalau tidak salah masih Rp45.000) dengan masih menyisakan saldo minimal yang ditetapkan bank. Dengan perasaan ceria akan segera bertemu sang kekasih, saya bergegas ke ATM. Apa daya, saya tidak bisa mengambil uang karena saldonya ternyata kurang dari Rp50.000,00, satuan terkecil penarikan uang dari ATM. Saking gembiranya, saya lupa memperhitungkan biaya administrasi rutin, padahal gadisku itu sempat menawarkan untuk mengirim lebih dari Rp20.000. Gagallah rencana ke Bandung.

Tujuh bulan berikutnya bertambah buruk karena situasi yang makin tidak kondusif, saya (dan banyak teman-teman sekerja yang lain) memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tanpa bayangan harus melakukan apa. Dan saya meninggalkan piutang pada kantor sebanyak tujuh bulan gaji. Saya juga pulang ke Bandung dengan status tidak punya penghasilan tetap (yang sebenarnya sudah berlangsung selama tujuh bulan terakhir). Dalam masa-masa inilah, kami berdua membuat istilah 3T (tempe, telur, teri) sebagai menu sehari-hari dalam pola rotasi. Maklum, biaya makan hanya bersumber dari uang sakunya sebagai mahasiswa, sebagian jatah dari orangtuanya, sebagian dari honornya sebagai asisten lab. Meskipun kami menetapkan pola rotasi agar tidak terlalu bosan, pada kenyataannya tempe adalah menu paling dominan.

Ada sedikit perubahan setelah dua-tiga bulan sejak berhenti bekerja saya mendapatkan proyek yang memungkinkan saya (dan teman-teman kos) membeli sebuah rice cooker. Kami jadi bisa memasak nasi sendiri, tapi lauk pauk 3T tadi tentunya masih harus beli. Tapi, kami mampu membeli untuk konsumsi sampai 5-6 orang, tidak lagi hanya untuk berdua. Kami juga sesekali mampu membeli jus. Dan semakin membaik setelah saya mendapatkan pembayaran piutang gaji. Ini tentu melegakan karena saya bisa membayar utang yang timbul pada waktu-waktu sebelumnya, hanya untuk bertahan hidup selama tidak ada pekerjaan.

Saya akhirnya menikah dengan sang kekasih yang sudah turut menderita (saya kadang-kadang masih tidak habis pikir betapa beruntungnya saya). Karena gagal mendapatkan rumah tinggal sendiri, saya pun menumpang di Pondok Mertua Indah, hingga anak kedua kami berusia satu tahun. Dan selama masa itu, saya tetap bisa menikmati tempe, yang lagi-lagi aneh, karena masakan tempe ibu mertua saya cocok betul dengan kegemaran saya tanpa saya pernah bicara apa-apa. Saya juga sangat meragukan ibu kandung dan ibu mertua saya pernah diskusi tentang tempe.

Kini kami tinggal di rumah sendiri, bersiap menyambut anak ketiga yang sekarang masih berupa janin dua bulan. Dan istri saya tentunya tidak perlu bertanya lagi tentang masakan tempe seperti apa yang saya suka. Bisa dibilang selama di rumah, tempe hampir setiap hari muncul dalam menu makanan. Anak-anak saya juga suka makan tempe. Apalagi yang kedua, tidak tahan melihat tempe di atas meja. Pasti langsung merengek minta tempe, seolah-olah sudah satu abad tidak makan tempe. Saya pun bersyukur dengan situasi ini.

Awal tahun ini, tersiar kabar bahwa ketersediaan kedelai di pasar menipis, dan harganya melambung tiba-tiba tanpa kendali. Para pengusaha tempe (juga tahu karena berbahan sama) yang jumlahnya ribuan menjerit, sebagian menutup usahanya, sebagian lagi buka-tutup bergantung situasi, dan hanya sebagian kecil yang mampu bertahan. Saya baru tahu ternyata produksi nasional kedelai hanya mencapai 600 juta ton pertahun dari kebutuhan total sekitar 1,3 juta ton. Jadi, sisanya diimpor yang kalau tidak salah sebagian besar dari Amerika. Jadi selama ini sepertinya tempe yang notebene makanan khas Indonesia, ternyata berbahan dasar produk barat? Entahlah, yang jelas saya tidak bisa berkomentar banyak tentang hal ini. Saya miris melihat para pejabat terkait seperti menteri-menteri, membahas persoalan kedelai ini sambil tertawa-tawa. Secara keseluruhan bangsa ini memang sudah sejak lama salah urus. Mengomentari soal penderitaan pengusaha tempe dan ketersediaan kedelai di pasar bukan keahlian saya, lagi pula akan sangat terbatas jika hanya melihatnya dari sudut tempe dan kedelai. Bukan karena saya hanya peduli makan tempe, tapi mengabaikan kesulitan pengusaha tempe dan petani kedelai.

Saya hanya bisa mengumpat dan mengutuk ketika di televisi saya melihat berita tentang penggerebekan sebuah gudang yang ternyata sudah menimbun puluhan ton kedelai berbulan-bulan sebelum soal kedelai meledak awal Januari ini. Namun, saya masih bersyukur karena saya masih mampu menikmati tempe tanpa harus protes kepada tukang sayur yang menaikkan harga tempe. Saya tidak mampu protes kepada pengusaha tempe yang terpaksa menaikkan harga tempe, itupun sedikit, supaya bisa tetap bertahan. Saya tidak mampu protes kepada petani kedelai yang menaikkan harga kedelai walapun keuntungannya tidak signifikan. Karena yang menikmati keuntungan tetap saja mafia-mafia yang membuat petani tidak mempunyai banyak pilihan. Akan tetapi, para mafia ini barangkali hanya bagian paling dasar dari piramida pereguk keuntungan dan pemiskin bangsa.

Dan salah satu yang pernah (atau masih?) berada di puncak piramida bersama seluruh keluarga, kroni dan konconya itu baru saja meninggal. Meninggalkan setumpuk persoalan yang ditimbulkannya atas nama pembangunan yang karena itu orang lain punya alasan untuk menyebutnya sebagai “jasa kepada bangsa dan negara”. Banyak pihak yang mengumandangkan pengampunan dan pemaafan bagi sang mantan diktator, dan agar persoalan hukumnya dilupakan saja, demi “kemanusiaan”. Ya terang saja, kalau “pemimpinnya” saja tidak dihukum, maka selamatlah semua keluarga, kroni, dan konco-konco ini dari pertanggungjawaban. Dan makin buramlah makna keadilan dan penegakan hukum. Sementara seluruh stasiun televisi menayangkan nyanyian kepahlawanan, dan tabur melati sebanyak dua ton. Pahlawan apa? Aya-aya wae!

Saya hanya mampu termenung kenapa negara agraris yang mampu swasembada pangan (tahun 1984) ini harus mengimpor kedelai, setelah sebelumnya mengimpor beras. Tapi, saya masih bersyukur, dalam ketermenungan itu saya masih bisa menikmati tempe. Apa jadinya bangsa ini tanpa tempe? Kita memang bangsa tempe, karena produksi tempe begitu marak di Indonesia (terutapa di pulau Jawa). Karena seperti yang saya yakini, saya bukanlah satu-satunya penikmat tempe. Hasil survey dari sebuah media cetak yang saya baca membuktikan bahwa kita memang bangsa (pembuat dan penikmat) tempe, meski ada negara lain yang mengklaim kepemilikan paten atas tempe. Yang saya maksud bukan Amerika, yang memiliki (kota) Tempe. Dan selama tidak ada perbaikan mendasar, kita akan tetap menjadi bangsa tempe (yang lembek dan gampang dibentuk setelah diinjak-injak).

2 Tanggapan

  1. teman dari singapore kemarin ke kuwait.. ternyata kelauarganya asli jawa (banyak orang sin-melayu yg asli indonesia)… dia bilang… wah kalo gak ada tempe gak bisa hidup saya….. hehehe…
    di kuwait: untung istri bisa bikin tempe sendiri…:)

  2. Beruntung dong bisa bikin tempe sendiri. Gimana dengan orang Kuwait, doyan tempe gak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: