Yang tidak biasa tentang KRL Ekspres

Ada (beberapa hal) yang tak biasa hari ini. Begitu sampai di Stasiun Bogor, saya melihat secara sekilas sebuah pengumuman yang intinya adalah tarif KRL Ekspres dan KRL Semi Ekspress disamakan jadi Rp11.000. Semi Ekspres berangkat pada jam-jam tertentu (umumnya antara jam 11.00 – 13.00), dan singgah di lebih banyak statsiun daripada Ekspres, dengan tarif Rp6000. Hari ini saya mau naik KRL Ekspres jam 07.00, jadi untuk sementara, penyamaan tarif ini tidak ingin saya pikirkan. Seperti biasa, saya membeli koran sebagai “bekal” baca di kereta. Saya sampai di peron (jalur 2) bersamaan dengan rangkaian KRL mulai masuk. Bersama calon penumpang lain, saya berhamburan masuk dan memilih tempat duduk terdekat. Dalam hal ini, saya tidak pernah memiliki tempat duduk favorit. Sambil menunggu KRL berjalan, saya mulai membaca koran. Rasa kantuk menyerang denga hebat. Entah kenapa, kantuk lebih ganas dan agresif di bulan puasa. Biasanya saya tertidur atau menidurkan diri setelah pemeriksaan tiket, kecuali tentunya kalau saya tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri. Dalam hal ini saya harus tahan melek sampai Jakarta. Singkat kata saya pun tertidur.

Saya terbangun ketika petugas melakukan pemeriksaan tiket. Saya melihat sekeliling, ternyata gerbong yang saya tumpangi telah penuh, lantai gerbong pun diisi oleh penumpang. Sebenarnya ini hal biasa. Hanya sedikit terkejut, karena terakhir yang saya ingat sebelum tertidur, belum ada yang mengisi lantai gerbong. Tiket saya ambil dari kantong kemeja, mengangsurkan ke petugas. Petugas membolongi tiket dan mengembalikan pada saya sebelum tiket masuk ke kantong kemeja lagi. Dan tentu saja, saya tertidur lagi.

Menjelang Stasiun Gondangdia, saya terbangun lagi, kali ini dengan tambahan tekad untuk tidak tertidur lagi karena saya ingin berhenti di Stasiun Gambir. Saya memandangi para penumpang yang mendekati pintu-pintu, bersiap-siap untuk keluar. Dan mereka pun keluar begitu KRL berhenti di Stasiun Gondangdia. Saya membuka koran, berusaha membaca agar tetap melek. Setelah KRL mulai berjalan lagi, beberapa calon penumpang berdiri dan mendekati pintu-pintu, sama seperti penumpang yang akan turun di Gondangdia tadi. Saya hanya melihat mereka, dan tetap duduk di tempat, walaupun saya juga akan turun di Gambir. Namun, saya sempat terheran-heran ketika menjelang Stasiun Gambir, kecepatan KRL bukannya berkurang malah tambah kencang. Oh rupanya, kereta tidak mampir di Gambir alias hanya numpang lewat. Ya sudah, berarti saya akan turun di Stasiun Juanda. Tidak berapa lama, KRL memasuki Stasiun Juanda, melambat dan berhenti. Saya bergegas keluar KRL, menuju gerbang keluar, menyerahkan tikat ke petugas dan melangkah turun. Saya akan menggunakan ojek untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor di Jl. Abd. Muis. Hal yang sama akan saya lakukan jika saya turun di Stasiun Gambir.

Saya kembali merasa heran melihat betapa sepinya stasiun. Biasanya begitu menuruni tangga, puluhan tukang ojek berebut menawarkan jasa. Tapi kali ini, tidak ada satupun tukang ojek. Bahkan trotoar di samping kiri kanan bangunan stasiun pun kosong yang biasanya digunakan untuk memarkir motor oleh tukang ojek. Hanya ada satu dua bajaj yang sedang negosiasi dengan calon penumpangnya. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Setelah penumpang makin banyak yang berdiri menunggu, para ojeker mulai berdatangan. Satu persatu ojek membawa penumpangnya. Tidak ada tukang ojek yang menganggur, tidak ada yang memarkir motor. Semua kebagian penumpang. Tidak ada negosiasi panjang. Penumpang langsung naik. Bahkan instruksi tentang tujuan penumpang disampaikan setelah naik sadel. Yang lebih gila, seorang tukang ojek langsung tancap gas, padahal penumpangnya belum duduk sempurna. Hampir saja sang penumpang jatuh. Si tukang ojek hanya nyengir, si penumpang hanya bisa sabar. Dan saya hanya berdiri melihat semua pemandangan ini, masih terus bertanya-tanya, ada apa?

Tapi satu hal sudah jelas, ojek (juga bajaj) jadi angkutan laris, paling dinanti, dan tentu saja saya harus bersiap membayar lebih tinggi dibanding sebelum-sebelumnya (hmm, istilah betul tidak ya, menurut EYD?). Puas melihat “pemandangan”, saya memutuskan untuk bergerak. Sebuah ojek yang baru mampir saya stop. Saya beritahu tukang ojeknya bahwa saya mau ke Abd. Muis, sambil bertanya “berapa?”. Dia jawab “delapan ribu”. Sambil menaiki sadel belakang, saya memakai helm yang dipinjamkan oleh tukang ojek, sambil menawar, “enam ribu” (biasanya saya bayar lima ribu, baik dari Gambir maupun dari Juanda). “Delapan ribu,” doi bertahan. “Ya udah tujuh ribu,” saya menaikkan penawaran sekaligus menutup negosiasi, dan si tukang ojek sepakat. Lalu melajulah kami.

Di tengah perjalanan, iseng saya tanya. “Kok ojek pada gak nongkrong di stasiun?” Dan terjadilah dialog.

“Lagi abis, bang.”
“Abis?”
“Maksudnya, pada pergi gitu.”
“Oh, lagi pada narik maksudnya.”
“Iye.”
“Wah, tumben amat?”
“Iye, soalnya yang di Gambir ditutup.”
“Tukang ojek gak boleh ke Gambir?”
“Bukan, bang. Maksudnya kereta gak berenti lagi di Gambir, numpang lewat doang gitu.”
“Oh gitu, jadi sekarang KRL berhenti langsung di Juanda, Gambir dilewat?”
“Iye bang.”
“Jadi penumpang numpuk di Juanda ya. Jadi, ojek pada narik.”
“Iye.”
“Tukang ojek dari sono (maksudnya Gambir) juga pada kemari (Juanda) dong.”
“Iye, bang.”

Ya iya lah, KRL ekonomi tidak pernah berhenti di Gambir. Kalau sekarang Pakuan Ekspres juga begitu, ya pastilah terjadi penumpukan penumpang di Gondangdia dan Juanda (Tapi, sejujurnya, saya tidak sama sekali bagaimana situasi dan kondisi di Gondangdia). Dan sebagian tukang ojek yang nongkrong di Gambir juga pasti pindah tongkrongan, nyebar di kedua stasiun yang “mengapit” Gambir itu. Tapi, sebenarnya saya belum merasa puas, kenapa “stok” tukang ojek bisa cepat “habis” pagi ini. Sudah jamak rasanya bahwa, seperti juga angkot (angkutan kota) dan ojek di Bogor, ojek di Jakarta ini juga pasti rasio ketersediaannya masih lebih tinggi dibandingkan calon penumpangnya. Dan tidak ada peristiwa atau kejadian khusus yang menghabiskan tukang ojek di luar kewajaran. Barangkali juga, tukang ojek di Gambir belum tahu akan hal ini, tapi ini agak meragukan. Soalnya, berita di antara mereka pasti cepat menyebar. Hmm, kita akan lihat beberapa hari kemudian. Apakah situasi ojek akan “normal” kembali? Apakah motor-motor akan kembali terparkir di Gondangdia dan Juanda? Apakah jumlah mereka akan kembali melambungkan rasio “penyedia-pengguna” jasa ojek? Apakah para tukang ojek akan kembali “menjemput” calon penumpangnya di tangga untuk mendahului rekan seprofesinya yang lain?

Pertanyaan paling penting buat saya, apakah saya masih bisa naik KRL Ekspres dari Gambir untuk menuju Bogor? Kalau tidak, dari stasiun mana saya harus naik?

2 Tanggapan

  1. panjang amir … :(

  2. Om bahtiar, pelit amat kasih komentar. But, thanks anyway :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: