Hujan masih setia di Bogor

Setengah perjalanan bulan Maret sudah berlalu. Hujan masih saja turun di Kota Bogor. Siapa bisa menyalahkan? Memang Bogor dikenal sebagai Kota Hujan. Walaupun tidak setiap hari, hujan senantiasa turun dengan membawa misi dari penciptanya. Sebagian besar kita (termasuk saya yang masih sering bertanya-tanya), memperlakukan hujan berdasarkan kepentingan. Bagi yang daerahnya dilanda kekeringan, atau yang sedang bergulat melawan panas matahari, atau sang petani yang sedang membutuhkan air untuk kesuburan tanah dantanaman, hujan tentu disenangi (walau hanya sebagian kecil yangmensyukuri). Sebaliknya bagi yang sedang ingin menjemur cucian, atau menjemur kasur (karena keompolan anak seperti dalam kasus saya), atau yang sedang ingin bepergian, atau yang sedang menyelenggarakan acara, hujan sepertinya sebuah bencana, atau setidaknya halangan, dan dengan sendirinya dibenci dan dicaci (boro-boro bersyukur!).

Barangkali masih lekat dalam ingatan banjir yang melanda Jakarta bulan Februari lalu, atau di bulan yang sama lima tahun lalu. Hampir semua perhatian (sebagai penghalusan dari “alasan dan kesalahan”) diarahkan ke Bogor, khususnya hujan (deras dan lama) yang mengguyur kota Bogor ini, kotaku. Bahkan gubernur Jakarta sendiri, entah karena memang sudah di akhir masa kegubernurannya atau karena niatnya yang ingin kekuasaan lebih tinggi, lebih senang menyalahkan segala hal kecuali dirinya dan kekuasaan yang tidak dimanfaatkannya dengan baik untuk kepentingan masyarakat. Dengan entengnya, Bang Yos (begitu katanya biasa dia dipanggil; entah oleh siapa) mengatakan bahwa siapapun gubernurnya, Jakarta tidak akan pernah bebas dari banjir. Alasannya, dia bilang karena ada 13 cabang sungai yang mengarah ke Jakarta dari berbagai daerah sekitar Jakarta (oh tentu saja Bogor tercinta masuk di dalamnya).

Ini orang entah bodohnya keterlaluan, atau angkuhnya yang keterlaluan, atau memang merasa harus mengeluarkan pernyataan. Dia pasti sudah tahu fakta tersebut saat jadi gubernur 10 tahun yang lalu (atau malah sebelumnya), kok tidak melakukan apa-apa. Dan dia juga pasti tahu (karena ternyata hampir semua orang tahu), sebelum ini sudah terjadi banjir berkali-kali, lha kok lebih sibuk (memperbolehkan) menanam pohon-pohon beton menjulang ke langit ketimbang menanam pohon sungguhan untuk resapan air. Lebih suka membuat jalur khusus untuk aliran busway ketimbang memperbagus aliran air yang menuju ke tempat semestinya. Ya banjirlah!

Kalau memang gubernur (dan setiap pemimpin) tidak pernah menggunakan nurani dan akal sehat, maka benar, siapapun gubernurnya banjir akan tetap terjadi, dan bukan hanya banjir, semua masalah klasik akan terus berulang. Dan siapapun gubernurnya dalam hal ini, dia tidak akan pernah (mau) susah. Lagi-lagi masyarakatlah yang harus rela (herannya, ada juga yang bangga) dengan tradisi banjir ini.

Ah mumet! Padahal kalau dipikir-pikir, hujan tidak pernah turun dengan kemauan sendiri karena secara ilmiah hujan punya siklusnya sendiri yang sangat dipengaruhi oleh iklim suatu daerah/wilayah. Lebih-lebih lagi, karena (seperti disinggung di atas), hujan turun membawa misi tertentu dari penciptanya. Sang Penciptalah yang punya maksud dan tujuan tertentu untuk kebaikan bumi dan manusia. Kitalah manusia, yang terlalu bodoh untuk memahaminya.

Hei, hujan ternyata sudah berhenti. Hanya beberapa menit, tidak lebih dari 20 menit. Artinya, sebentar lagi kesejukan ini akan berganti dengan kehangatan. Sudah sesiang ini, sudah terlambat untuk menjemur kasur. Selain matahari masih malu-malu, tempat jemuran toh masih basah. Alhasil, malam ini pasrah tidur dengan aroma terapi dari bekas pipis anakku. Oh….

technorati tags:,

Blogged with Flock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: