Halaman hijau untuk rumah kecil

Meskipun rumah saya berukuran kecil (tipe 29), saya bersyukur bahwa kami memiliki halaman yang lumayan, sekitar 25 meter persegi. Cukup luas sebagai tempat bermain anak-anak, tapi sebenarnya masih kurang leluasa untuk berkebun dengan berbagai tanaman buah. Tipe rumah saya aslinya hanya memiliki lahan 72 meter persegi. Karenanya, kami memilih kavling di sudut (hook), untuk mendapatkan tambahan lahan. Saya sengaja membiarkan halaman terbuka, tanpa kanopi (awning). Halaman rumah saya dominan dengan tanaman rumput gajah mini, dekat dengan pagar di bagian pinggir saya tanami bambu cina. Di sudut kanan ada mangga apel, yang katanya penampilan buahnya sangat menggiurkan tapi rasanya asam sepat luar biasa. Lalu di sudut kiri ada pohon cempaka dan jambu air mengapit bak sampah. Agak ke tengah di depan jendela ada sebuah pohon kenanga dan tiga pohon jeruk beda-beda jenis (purut, limau, nipis), dan sekumpulan miyana (lihat juga gambar-gambar di tulisan tentang biopori).

Sebagai selingan, saya pasang juga conblock dengan luas total 10 meter persegi. Di atasnya ada sebuah tabulampot (tanaman buah dalam pot) yang ditanami jambu bangkok. Saya masih berencana menambah 2 - 3 tabulampot lagi di sini. Tepat di perbatasan teras, saya membuat lahan kecil dengan luas 150 x 50 cm masing-masing di sayap kiri dan kanan. Lahan ini saya tutupi dengan tanaman remek daging dan beberapa pohon bunga melati. Menyenangkan melihat bunga melati yang mekar, sayang hanya sebentar karena begitulah bunga melati. Yang banyak dimanfaatkan adalah ketika bunganya masih kuncup, umumnya sebagai hiasan pengantin wanita. Sesaat setelah mekar, bunganya akan rontok.

Beda dengan mawar, yang mekar dalam waktu relatif lama. Belasan pohon mawar kecil saya tanam di sisi kiri, yang bertemu dengan pohon cempaka di ujung dekat tempat sampah. Bunganya juga kecil, tapi keindahannya terletak pada variasi warnanya. Tiap pohon bisa menghasilkan warna mawar yang berbeda-beda, merah, putih, kuning, dan jingga. Dekat dengan mawar-mawar kecil ini terdepat sebuah pohon bunga kamboja, tepat di belakang pohon jambu air. Agak ke belakang lagi (mendekati teras), tersembul kecil pohon chodia, tanaman pengusir nyamuk sebagai alternatif dari bunga lavender. Selain mawar kecil ada juga dua pohon mawar yang lebih besar, tertanam di antara deretan miyana dan mangga apel. Satu pohon senantiasa menghasilkan mawar merah, satu pohon lagi menghasilkan mawar kuning dan mawar putih bergantian. Di sekitar bunga mawar, terdapat masing-masing lima pohon tanaman bunga soka dan bunga terompet. Pohon kedua bunga ini kecil-kecil, kalau tidak hati-hati melangkah bisa terinjak.

Di bagian tengah (persis menhubungkan pintu rumah dan pintu pagar), yang secara umum disebutkan sebagai carport, adalah sepasang jalur berbahan semen. Kedua jalur mengapit sepenggal lahan yang saya tanami kacang-kacangan. Pohon dan daunnya mirip kacang tanah, bunganya kuning, dan tentu saja tidak berbuah (kacang). Seperti halnya kacang tanah, tanaman ini juga sangat sempurnya sebagai ground cover.

Di luar pagar, ada sedikit lahan yang disediakan oleh pengembang, letaknya setelah selokan. Di sisi kiri (depan tempat sampah), oleh pengembang sudah ditanami suatu jenis pohon yang saya tidak tahu namanya. Pohonnya (akan tumbuh) besar, bunganya putih, daunnya rindang. Saya tambahkan sepohon miyana. Di sisi kanan penuh dengan tanaman kacang-kacangan dan miyana. Di masing-masing ujungnya terdapat satu pohon salam. Pohon salam ini juga akan tumbuh besar dan berdaun rimbun. Daunnya sering dimanfaatkan untuk memasak sayuran. Saya berencana menambah satu pohon lagi di bagian tengahnya, mungkin pohon kayu manis. Sebenarnya saya ingin menanam kayu putih tapi kuatir mengganggu jalan.

Akhirnya, sebagaimana banyak rumah lainnya juga, belasan bunga dan tanaman hias dalam pot menghuni halaman dan teras. Meskipun masih kurang, tapi untuk saat ini sudah mencukupi. Sejumlah pot tadinya digantung di bawah atap, tapi karena menyulitkan penyiraman, akhirnya saya turunkan.

Saya sangat menikmati waktu di halaman ini, baik ketika menyiram, memangkas daun dan ranting, mendaring (menggemburkan tanah sekitar pangkal pohon), atau sekedar duduk di teras sambil memandangi kehijauan, mengisap rokok dan menyeruput kopi hangat. Bahkan di malam hari pun, saya sangat menikmatinya. Anak-anak saya sangat senang bermain di halaman. Begitu mendengar saya membuka pintu depan, mereka segera berhamburan dari dapur atau kamar, berlari menuju halaman. Bahkan mereka juga “berkebun” dengan cara mereka sendiri.

Bagaimanapun, halaman yang saya maksudkan sebagai elemen hijau ini masih jauh dari sempurna. Saya bukan termasuk orang yang pandai dalam hal tanaman dan pertamanan. Juga, masih kurang leluasa untuk menanam pohon berbuah lainnya, begitu pula tanaman sayur mayur untuk keperluan keluarga. Tetapi, saya telah mencoba alternatif bertanam di lahan sempit. Insya Allah, akan saya sampaikan di tulisan berikutnya.

Catatan: Hampir semua foto di tulisan ini adalah foto lama, 4-5 bulan yang lalu. Kondisinya sudah banyak berubah sekarang.

4 Responses to “Halaman hijau untuk rumah kecil”

  1. [...] the post the problem occured first, I edited and saved many times before I published it. Just after I [...]

  2. [...] Last testing, hopefu… di Privat: Posting test Last testing, hopefu… di Halaman hijau untuk rumah… Halaman hijau untuk … di Kisah Setangkai Mawar Merah Da… Halaman hijau untuk … [...]

  3. Senang sekali melihat rumahmu, dan halamannya, serta aktifitasmu dalam berkebun… Gardening is Naturally freshing.. fresh for our mind and soul. Kita punya titik nol yang sama.. :)

  4. Thanks, Dadan. Gw setuju, berkebun memang memberikan keseimbangan dalam hidup.

Leave a Reply